Dampak Buruk Berita Hoax pada Kesehatan Mental, Ini Penjelasannya

KOMPAS.com - Berita palsu atau yang dikenal dengan istilah populer “hoax” bisa bertebaran dalam berbagai bentuk, mulai dari tulisan, foto, dan video. Di era ini, semua orang bisa menggunakan media sosial, dan berita hoax jadi sangat mudah tersebar.Mengingat dampaknya sangat buruk, setiap orang pasti ingin menghindarinya. Terutama ketika ada isu penting yang tersebar di tengah masyarakat, tentu kamu ingin mendapatkan informasi yang valid dan berkredabilitas agar bisa up to date dengan kabar terkini.

Selain itu, dampak buruk berita hoax juga bisa merugikan kesehatan mental. Seperti ini penjelasan ilmiahnya: Dalam sebuah studi, para psikolog sepakat bahwa berita hoax bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti post-traumatic stress syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan. Tidak hanya itu, psikolog percaya, orang yang terpapar berita hoax juga bisa membutuhkan terapi, karena diselimuti kecemasan, stres, dan merasa kesepian karena berita palsu.

Psikolog meyakini, berita hoax dihadirkan untuk memanipulasi banyak orang. Sebab, berita palsu bisa memanfaatkan kelompok orang yang takut, dan mengambil keuntungan ketakutan itu. Jangan menyepelekan dampak buruk berita hoax pada kesehatan mental. Sebab, efeknya bisa berlangsung dalam jangka panjang. Misalnya, mengganggu situasi emosional dan suasana hati yang berkepanjangan, sampai “menghantui” pikiran untuk waktu yang lama.

Malas mencari tahu kebenaran suatu berita? Ini akibatnya

"Semakin tinggi angka reproduksi, semakin cepat akan menyebar," kata Martin mengutip University of California San Francisco.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah reproduksi termasuk seberapa menular virus itu, seberapa rentan orang terhadap infeksi, jumlah kontak di antara orang-orang, dan lamanya kontak tersebut terjadi.

Social distancing ini diharapkan bisa menjauhkan si sakit atau masih carrier untuk menulari orang sehat. Menyederhanakan Washington Post, ketika berada dalam satu komunitas yang sama, virus corona yang bisa menular antarmanusia dan juga lewat droplet ini akan menular secara simultan pada orang lain. Semakin banyak orang dalam satu kerumunan yang sama dengan orang yang sakit maka orang sehat bisa menjadi sakit.

Hal ini akan menimbulkan 'ledakan penyakit yang menular.' Dari satu orang bisa menyebar sampai ke ratusan bahkan ribuan orang sekaligus.Intinya, ketika ada social distancing yang terbentuk, manusia berinteraksi lebih sedikit dengan orang lainnya, maka virus corona punya kesempatan yang lebih kecil untuk menyebar dan menghambat infeksi virus corona.